Situbondo, Pemangkarnews.com – Abu tolato yang diduga berasal dari aktivitas musim giling tebu di PG Asembagus kembali menuai keluhan warga. Debu hitam yang beterbangan disebut tidak hanya mengotori lingkungan, tetapi juga mengganggu kesehatan, aktivitas masyarakat, hingga membahayakan pengguna jalan di jalur Pantura Kecamatan Asembagus.
Keluhan tersebut bukan persoalan baru. Setiap musim giling tiba, warga sekitar pabrik, khususnya di Desa Trigonco dan wilayah sekitarnya, mengaku harus menghadapi hujan abu yang masuk ke dalam rumah. Selain menyebabkan lingkungan menjadi kotor, abu tersebut juga dikeluhkan memicu gangguan pernapasan dan mengurangi jarak pandang pengendara yang melintas.
Salah seorang warga Desa Trigonco mengaku sudah merasa sangat dirugikan.
"Setiap kali musim giling, abu tolato masuk ke dalam rumah. Saya sampai capek menyapu, sehari bisa sepuluh sampai belasan kali. PG jangan hanya memberi kompensasi, tapi juga harus melakukan tindakan agar abu yang keluar dari cerobong tidak separah sekarang. Dulu memang ada abu tolato, tapi tidak separah saat ini. Jangan hanya memikirkan kuantitas produksi, kualitas lingkungan dan kesehatan masyarakat juga harus diperhatikan," ujarnya dengan nada kecewa.
Menanggapi keluhan tersebut, Korwil Timur GARDA, Ainul Yaqin, menegaskan pihaknya akan menyampaikan aspirasi masyarakat kepada manajemen PG Asembagus.
"Kami akan menyampaikan keluhan ini kepada pihak PG. Jangan hanya memikirkan keuntungan perusahaan, tetapi pikirkan juga kesehatan masyarakat, khususnya warga Desa Trigonco. PG harus bertanggung jawab atas dampak yang ditimbulkan selama musim giling berlangsung," tegas Ainul Yaqin.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak PG Asembagus belum memberikan keterangan resmi terkait keluhan warga tersebut. Pemangkarnews.com masih berupaya melakukan konfirmasi kepada manajemen PG Asembagus guna memperoleh penjelasan dan tanggapan atas persoalan yang dikeluhkan masyarakat.
Red_182
