Notification

×

Iklan

Iklan

SPBU Kalianget Disorot: Pengawas Akui Pengimbal Bebas Beli Pertalite

Rabu, 11 Maret 2026 | 06:25 WIB | 0 Views Last Updated 2026-03-11T10:25:19Z



Situbondo, Pemangkarnews.com – SPBU 54.683.06 Kalianget di Jl. Raya Kalianget No. 606, Desa Kalianget, Kecamatan Banyuglugur, menjadi sorotan setelah temuan dugaan penimbunan BBM subsidi jenis Pertalite oleh tim Pokdar Kamtibmas dan FKDM pada Selasa malam(10/03/2026).


Dalam kegiatan tersebut, tim menemukan 51 jerigen kosong dan 14 jerigen berisi Pertalite di kawasan Taman Kalianget. Namun setelah diamankan oleh Polsek  Banyuglugur  dan dihitung ulang jumlahnya ada 56 Jerigen dengan 16 jerigen ada isi pertalite.


Para pengimbal beserta barang bukti kemudian diamankan oleh Polsek Banyuglugur untuk proses lebih lanjut dan saat ini sudah ditangani Polres Situbondo.


Persoalan mencuat ketika sejumlah pengimbal yang diamankan mengaku membeli Pertalite dari SPBU Kalianget yang lokasinya hanya berjarak beberapa ratus meter dari titik temuan.


Awak media Pemangkarnews kemudian melakukan konfirmasi langsung dan ditemui oleh dua pengawas SPBU Kalianget pada Selasa malam (10/03/2026).


Dalam wawancara tersebut, pihak pengawas menyatakan bahwa SPBU tidak pernah mengeluarkan surat rekomendasi untuk pengimbal.

“Kalau dari SPBU kami tidak memberikan rekomendasi. Rekomendasi itu dari kecamatan,” ujar salah satu pengawas SPBU kepada awak media.


Terkait jumlah pembelian, pengawas juga mengakui bahwa tidak ada pembatasan khusus bagi pengimbal, selama stok BBM masih tersedia di SPBU.


“Kalau di sini kami tidak membatasi pengimbal. Yang penting stok ada. Biasanya stok sekitar 8 ton, dibagi untuk pengimbal 2 ton  dan konsumen umum 6 ton, setelah sudah habis 2 ton tersebut pengimbal kita stop ” jelasnya.


Ia juga menambahkan bahwa para pengimbal bukanlah penimbun, melainkan warga yang mencari nafkah dengan menjual kembali BBM ke daerah yang jauh dari SPBU.


“jadi mereka tuh bukan penimbun, Pak. Kalau penimpun itu minyak,goreng, di kardus, di karton, ditimbun di gudang itu penimpun, Pak. Itu langsung dijual disuplaikan. Itu juga mencari nafkah, Pak. kasihan orang  orang gunung,” tambahnya.


Meski demikian, pihak SPBU mengaku tidak bisa mengontrol aktivitas para pembeli setelah keluar dari area SPBU, termasuk jika kemudian terjadi dugaan penimbunan di luar lokasi.


" Dulu yang saya rapat di DPRD  di Situbondo karena dulu saya dipanggil , tetap dilayanin, tapi dibatasi. Tapi kita kan nggak tahu, Pak, di luar kayak apa, yang penting kita sudah menegasi ke operator. Maksudnya dibatasi, kalau selesai ya ditutup'


Terkait pengakuan dari para pengimbal yang mengaku membeli di SPBU kalinget pihak SPBU mengatakan,"Enggak tahu. Iya, kita kan enggak ngontrol di sana". Ujarnya.


Terkait isu adanya pungutan sekitar Rp8.000 dari pengimbal mobil ke pihak SPBU , pihak SPBU juga membantah adanya tarif resmi dari SPBU


“Kalau saya di sini sudah lama Pak, ya itu enggak ada Rp8.000, Pak. Kita tuh enggak motong Pak. Itu kan kesadarannyanya pengimbal kasih ke operator. Yang tau ya operator, Kalau kita kan yang penting nyediain stok, sudah pak. Kita juga nggak matok harus potong segini, bayar ke saya segini. Kita cuman menerima setoran pak ,” tegasnya.


Pengawas juga menjelaskan bahwa untuk menghindari antrean bercampur dengan kendaraan umum apalagi dalam masa panic buyying , pengimbal biasanya diarahkan ke satu jalur khusus di pompa sebelah timur SPBU.


Kasus dugaan penimbunan BBM subsidi ini kini masih menjadi perhatian masyarakat, terutama karena lokasi SPBU yang disebut oleh para pengimbal sebagai tempat mereka memperoleh Pertalite,sebelum akhirnya diamankan Kepolisian.

( IVAN )

×
Berita Terbaru Update