Situbondo, Pemangkarnews.com — Proyek miliaran rupiah Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) yang bersumber dari anggaran Kementerian Kelautan dan Perikanan di Desa Pesisir, Kecamatan Besuki, serta Desa Wonorejo, Kecamatan Banyuputih, Kabupaten Situbondo, mulai mendapat sorotan tajam.
Sorotan kali ini datang dari Garda Sakera, salah satu LSM yang memiliki SKP, yang mempertanyakan secara serius asal-usul material galian C yang digunakan dalam pekerjaan tersebut.
Pantauan dilapangan pun tak ada pekerja yang memakai APD padahal ini proyek negara dan tentunya keselamatan adalah nomer satu sehingga patut dipertanyakan juga kemana anggaran milyaran jika APD saja tidak diindahkan.
Material berupa batu, pasir hingga batu bolder menjadi perhatian. Garda Sakera mempertanyakan apakah material yang masuk ke lokasi proyek benar-benar berasal dari sumber tambang yang memiliki legalitas dan apakah dokumen dukungan material (surduk) yang digunakan sesuai dengan asal material sebenarnya.
Ketua Umum Garda Sakera, Johan Toro, menegaskan bahwa proyek yang menggunakan anggaran negara tidak boleh hanya mengejar penyelesaian pekerjaan, sementara legalitas material yang digunakan justru luput dari perhatian.
“Kami tidak sedang mencari-cari kesalahan. Kami hanya ingin memastikan, material yang digunakan dalam proyek bernilai miliaran rupiah ini jelas asal-usulnya dan legalitasnya. Jangan sampai proyeknya resmi, tetapi material yang masuk justru berasal dari sumber yang bermasalah,” tegas Johan Toro.
Menurutnya, dokumen dukungan material jangan sampai hanya menjadi persyaratan administratif di atas kertas. Asal-usul material harus dapat ditelusuri dan dibuktikan secara jelas.
“Kalau memang legal, silakan dibuktikan. Kalau lengkap izinnya, tidak ada alasan untuk ditutup-tutupi. Tetapi kalau ternyata material berasal dari tambang yang tidak memiliki izin, tentu ini harus menjadi perhatian serius aparat penegak hukum,” sambungnya.
Garda Sakera juga mendesak APH melakukan verifikasi dan investigasi terhadap sumber material galian C yang digunakan pada kedua titik proyek KNMP tersebut.
Johan menambahkan, pihaknya akan terus mengawal persoalan tersebut agar penggunaan anggaran negara benar-benar berjalan sesuai aturan.
“Jangan sampai surduk hanya menjadi formalitas untuk memenuhi persyaratan proyek. Yang paling penting adalah materialnya benar-benar berasal dari sumber yang sah, memiliki legalitas, dan dapat dipertanggungjawabkan,” pungkas Johan.
Informasi mengenai dugaan ketidaksesuaian dokumen dukungan material maupun asal-usul galian C tersebut masih perlu dibuktikan melalui verifikasi pihak terkait. Garda Sakera meminta persoalan ini tidak berhenti pada isu, tetapi dibuka secara terang melalui pemeriksaan dan klarifikasi terhadap pihak-pihak yang berkepentingan.
Red_182
