Notification

×

Iklan

Iklan

PROYEK TPT DESA BADERAN RICUH, WARGA TUDING PEKARANGAN “DICAPLOK” DAN MATERIAL LAMA DIPAKAI ULANG

Jumat, 08 Mei 2026 | 22:25 WIB | 0 Views Last Updated 2026-05-08T15:25:52Z

Situbondo, Pemangkarnews.com – Proyek rehabilitasi Tembok Penahan Tanah (TPT) di Dusun Krajan, Desa Baderan, Kecamatan Sumbermalang, Kabupaten Situbondo, menuai sorotan tajam dari warga. Proyek yang bersumber dari anggaran pemerintah tersebut justru memicu kericuhan karena diduga merugikan masyarakat sekitar.


Berdasarkan papan informasi proyek di lokasi, kegiatan tersebut merupakan Rehabilitasi Tembok Penahan Tanah (TPT) Dusun Krajan Desa Baderan dengan Nomor SPMK 000.3.2/033.5.SPMK/431.303.3/2026. Proyek dimulai sejak 1 April 2026 untuk Tahun Anggaran 2026 dan dilaksanakan oleh PT Universal Mediterian Sejahtera di bawah naungan Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Permukiman Kabupaten Situbondo.



Kepada awak media warga menjelaskan, Keributan bermula saat warga memprotes dugaan pengambilan sebagian lahan pekarangan mereka untuk pembangunan TPT. Bahkan, salah satu warga mengaku dapurnya terdampak hingga mengalami kerusakan akibat pembangunan tersebut.


Harapan warga yang awalnya ingin lingkungan menjadi lebih baik justru berubah menjadi kekecewaan. Salah satu pemilik rumah yang terdampak mengaku tidak pernah diberi penjelasan secara jelas terkait pembangunan yang memakan bagian teras rumahnya.

“Gule esoro kaleh dhibik tana’en nika pak. Gule ghun oreng kenik tak oneng napa-napa, justru halaman teras romana gule etotopa,” ujar warga dengan nada kecewa.



Warga yang diketahui bernama Pak Hari itu berharap pembangunan dibuat model trap agar tidak terlalu memakan lahan rumahnya. Namun harapan tersebut disebut tidak pernah direalisasikan oleh pihak pelaksana proyek.


Selain persoalan lahan, warga juga mempertanyakan kualitas pekerjaan proyek. Mereka menduga material batu lama dipasang kembali pada konstruksi TPT dan sengaja ditempatkan di bagian dalam bangunan agar tidak terlihat saat pemeriksaan dilakukan.


Warga mengaku sudah melayangkan teguran keras kepada kepala tukang dan pelaksana proyek. Namun, teguran tersebut disebut tidak mendapat tanggapan serius.

“Kami hanya ingin pekerjaan ini benar dan kuat karena memakai uang rakyat, bukan asal jadi,” ungkap salah satu warga di lokasi, Jumat (8/5/2026).


Kecurigaan masyarakat semakin kuat setelah melihat pondasi yang dinilai terlalu dangkal serta campuran semen yang dianggap tidak sesuai standar konstruksi. Keberadaan mesin molen di lokasi proyek juga menjadi sorotan karena disebut hanya menjadi pajangan, sementara proses pencampuran pasir dan semen lebih banyak dilakukan secara manual.


Warga khawatir kualitas bangunan TPT tersebut tidak akan bertahan lama dan berpotensi membahayakan lingkungan sekitar. Mereka meminta pihak dinas terkait dan pengawas proyek segera turun langsung melakukan pemeriksaan agar dugaan penyimpangan material maupun kualitas pekerjaan bisa dibuktikan secara terbuka./bersambung...

IVAN.R

×
Berita Terbaru Update