Situbondo – Pemangkarnews.com Pembangunan Bandara Kasa, Banongan - Situbondo kembali menuai kritik. Proyek strategis yang seharusnya menjadi penggerak ekonomi daerah justru dinilai meminggirkan pengusaha lokal. Pelaku usaha Situbondo mengaku hanya dilibatkan di awal proyek, namun perlahan disingkirkan di tengah perjalanan.
Informasi yang dihimpun media ini menyebutkan, pada tahap awal pembangunan, sejumlah pengusaha lokal sempat diajak terlibat. Namun seiring berjalannya proyek, peran mereka mulai dipangkas hingga akhirnya nyaris tidak dilibatkan sama sekali. Kondisi ini membuat pengusaha lokal merasa “dimatikan pelan-pelan” di daerahnya sendiri.
Ironisnya, pengusaha lokal menegaskan bahwa dari sisi harga dan jarak, material yang dikirim oleh warga Situbondo justru lebih murah karena lokasi pengiriman lebih dekat dengan proyek bandara. Namun faktanya, pemasok dari luar daerah tetap dipilih dengan alasan efisiensi, meski jarak lebih jauh dan harga dinilai lebih mahal.
“Kalau orang Situbondo yang memasok,lebih murah karena alasan dekat. Tapi justru yang dipakai pengusaha luar dengan harga yang relatuf tinggi artinya menguntungkan orang luar daerah, Kami hanya dipakai di awal, setelah itu disingkirkan,” ungkap salah satu pengusaha lokal. Senin,09 Februari 2026.
Sebagian besar material proyek Bandara Kasa diketahui didatangkan dari luar daerah. Kondisi ini semakin memperkuat kesan bahwa pembangunan bandara tidak berpihak pada potensi lokal, baik dari sisi pengusaha maupun masyarakat sekitar.
Sejumlah pihak menilai, keterlibatan pengusaha luar seharusnya dibarengi dengan kemitraan bersama pengusaha lokal Situbondo, bukan malah mematikan peran mereka di tengah jalan.Tanpa pola kemitraan yang adil, proyek besar ini dikhawatirkan hanya menguntungkan pihak luar.
Masyarakat Situbondo pun mulai mempertanyakan arah pembangunan Bandara Kasa. Proyek yang berdiri di atas tanah Situbondo diharapkan mampu menggerakkan ekonomi lokal, bukan sekadar meninggalkan bangunan fisik tanpa dampak nyata bagi warga.
Pembangunan Bandara Kasa seharusnya menjadi kebanggaan bersama, bukan simbol ketimpangan. Saatnya warga Situbondo bersuara dan bergerak, agar tidak terus menjadi penonton di rumah sendiri.
Red_182
