Jajaran Forkopimda dan para tamu undangan tampil dengan pakaian adat dari berbagai daerah. Suasana tersebut tidak hanya memperkuat nuansa budaya dalam peringatan Harjakasi, tetapi juga menjadi simbol keberagaman dan kekayaan identitas daerah.
Namun, di balik kemeriahan itu, perhatian Mas Rio justru diarahkan pada bagaimana Situbondo mampu mengubah sejarah dan potensi lokal menjadi kekuatan untuk bersaing serta dikenal lebih luas.
Dalam sambutannya, Mas Rio menegaskan bahwa pembangunan daerah tidak boleh hanya berorientasi pada pembangunan fisik. Menurutnya, sejarah, budaya, kreativitas generasi muda hingga potensi ekonomi lokal harus ikut diangkat sebagai wajah Situbondo.
“Panarukan adalah nama besar yang tercatat dalam sejarah. Tugas kita hari ini memastikan Situbondo tidak hanya terbangun secara fisik, tetapi juga dikenal luas oleh publik nasional,” tegas Mas Rio.
Mas Rio mengingatkan, perjalanan wilayah Situbondo memiliki sejarah panjang. Daerah ini pernah dikenal sebagai Kabupaten Besuki, kemudian menjadi Kabupaten Panarukan pada 1858, sebelum akhirnya resmi berganti nama menjadi Kabupaten Situbondo pada 1972.
Sejarah Panarukan bahkan memiliki catatan yang jauh lebih tua. Nama tersebut telah dikenal dalam perjalanan sejarah Nusantara, termasuk berkaitan dengan ekspedisi Raja Majapahit Hayam Wuruk pada 1355.
Karena itu, pemerintah daerah kini berupaya menghidupkan kembali identitas tersebut melalui berbagai program. Bukan hanya lewat pembangunan infrastruktur, tetapi juga melalui literasi, seni, film, sastra dan kreativitas anak muda.
Salah satunya dengan memberikan ruang bagi karya sineas lokal. Dalam rangkaian kegiatan Harjakasi, film lokal yang dibintangi Pengasuh Ponpes Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, KH Azaim Ibrahimy, turut diperkenalkan. Pemkab juga menghadirkan novelis Sanie B. Kuncoro atau Sania Rashid untuk mendorong lahirnya karya sastra berlatar sejarah Panarukan.
Menurut Mas Rio, semakin kuat identitas sebuah daerah, semakin besar pula peluang daerah tersebut dikenal dan memiliki daya tarik di tingkat nasional.
Arah pembangunan juga mulai diperkuat ke wilayah barat sejak 2025–2026. Pemkab Situbondo mendorong kerja sama antardaerah, termasuk dengan Pemkab Serang, untuk mempromosikan komoditas unggulan Situbondo sekaligus menguatkan kembali hubungan sejarah jalur Anyer-Panarukan.
Di sektor ekonomi, Mas Rio menyebut sejumlah indikator makro menunjukkan tren positif, seperti penurunan angka kemiskinan, pertumbuhan ekonomi dan perbaikan ketimpangan pendapatan.
Tetapi bagi pemerintah daerah, capaian ekonomi saja dinilai belum cukup. Situbondo juga harus mampu menjual kekuatan budaya dan kulinernya.
Permainan tradisional kembali dihidupkan dalam rangkaian Harjakasi. Kuliner khas seperti Nasi Sodhu, Tajin Palappa hingga olahan seafood di sepanjang jalur Pantura juga didorong menjadi bagian dari identitas sekaligus daya tarik Situbondo.
Ia pun mengajak seluruh elemen masyarakat untuk tidak hanya menjadi penonton pembangunan. ASN, guru, ulama, pelaku usaha, pedagang, generasi muda hingga masyarakat umum diminta mengambil peran sesuai bidang masing-masing.
Harjakasi ke-208 akhirnya tidak hanya menjadi perayaan atas perjalanan panjang Kabupaten Situbondo. Momentum ini sekaligus menjadi dorongan agar daerah yang memiliki sejarah, budaya dan potensi besar tersebut mampu keluar dari bayang-bayang dan semakin diperhitungkan.
“Saya masih bersemangat, percaya diri, dan yakin bahwa Situbondo bisa melompat jauh lebih tinggi, asalkan kita mau melangkah bersama-sama,” pungkas Mas Rio.
Red_182
