Situbondo, Pemangkarnews.com — Sore Ramadhan di jantung Situbondo, Minggu (1/3/2026), berubah menjadi lautan manusia dan lautan harapan. Di Alun-Alun Situbondo, ribuan warga memadati ruang publik dalam gelaran spektakuler bertajuk “SATAON – Lapor Rakyatku”, momentum setahun kepemimpinan Bupati Yusuf Rio Wahyu Prayogo (Mas Rio) bersama Wakil Bupati Ulfiyah (Mbak Ulfi).
Menjelang adzan Maghrib, suasana terasa tak biasa. Sebanyak 10.000 paket takjil gratis dibagikan, menciptakan pemandangan bak pesta rakyat yang religius sekaligus emosional. Anak-anak, pemuda, hingga lansia berbaur tanpa sekat semua tersenyum, semua menunggu waktu berbuka dalam kebersamaan.
Namun acara ini bukan sekadar bagi-bagi takjil. Di atas panggung terbuka, Mas Rio dan Mbak Ulfi menyampaikan Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) kepada rakyat secara langsung sesuatu yang jarang terjadi, ketika laporan kinerja biasanya hanya terdengar di ruang rapat formal.
“Ini bukan sekadar laporan, ini janji yang ditagih rakyat dan dipertanggungjawabkan di hadapan rakyat,” celetuk seorang warga, matanya tak lepas dari layar besar yang menayangkan capaian program setahun terakhir.
Dalam paparannya, Mas Rio mengungkapkan bahwa di tengah tekanan efisiensi anggaran nasional, dinamika fiskal, hingga bencana banjir bandang, Situbondo justru mencatat pertumbuhan ekonomi 5,28 persen pada 2025 tertinggi dalam lima tahun terakhir.
Pengangguran turun menjadi 3,02 persen, angka kemiskinan menyusut ke 11,17 persen, investasi melonjak hingga Rp1,04 triliun, dan PAD meningkat signifikan. IPM juga naik menjadi 71,87 indikator bahwa pembangunan mulai menyentuh kualitas hidup masyarakat.
Sebelas program prioritas pun dipamerkan kepada publik: dari ketahanan pangan “Petani Tentram”, digitalisasi wisata Pasir Putih, layanan pengaduan 24 jam “Ricall”, UMKM berbasis voucher dan pembiayaan nol persen, hingga program kesehatan gratis “Berantas”.
Di sektor infrastruktur dan sosial, pemerintah daerah mengklaim telah membangun ratusan rumah layak huni, membuka jalan baru, memperbaiki puluhan kilometer jalan, memasang ratusan lampu penerangan, hingga menyalurkan beasiswa dan insentif pendidikan keagamaan.
Mbak Ulfi menegaskan bahwa acara ini menjadi simbol keterbukaan pemerintah. Ia berjanji ruang dialog akan terus dibuka — dari media sosial hingga kunjungan langsung ke pelosok desa.
“Pembangunan bukan kerja pemerintah saja, tapi kerja bersama rakyat,” ujarnya.
Rangkaian acara juga diisi bazar UMKM, doa bersama, pembacaan Aqo’id 50, serta buka puasa bersama yang mengubah alun-alun menjadi ruang spiritual sekaligus ruang demokrasi.
Gelaran “SATAON – Lapor Rakyatku” terasa berbeda karena memadukan akuntabilitas, hiburan rakyat, dan nuansa religius dalam satu waktu. Pemerintah hadir bukan sebagai penguasa, melainkan sebagai bagian dari kerumunan.
Sore itu, Ramadhan di Situbondo bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga — tetapi tentang harapan yang disampaikan langsung, tentang laporan yang turun ke jalan, dan tentang keyakinan bahwa daerah kecil pun bisa “naik kelas”.
Red_182

