Notification

×

Iklan

Iklan

H. MOH HIJIR ISMAIL SELAMATKAN MASA DEPAN AYU DI TENGAH KEMISKINAN YANG TERLUPAKAN

Minggu, 03 Mei 2026 | 20:08 WIB | 0 Views Last Updated 2026-05-03T13:15:36Z

 


Situbondo, Pemangkarnews.com — Di tengah diamnya perhatian, Askim dan keluarganya Di pinggiran area pemakaman, jauh dari hiruk pikuk kehidupan, berdiri sebuah rumah berdinding bambu rapuh. Atapnya nyaris tak mampu menahan panas dan hujan. Di tempat itulah Askim, perantau asal Cirebon, bertahan hidup bersama dua anaknya bahkan tanpa aliran listrik.


Kehidupan mereka jauh dari kata layak. Perabot seadanya, ruang sempit, dan kondisi yang serba kekurangan menjadi pemandangan sehari-hari. Namun di tengah kerasnya hidup, ada satu hal yang tak pernah runtuh harapan.



Ayu, putri Askim, menyimpan mimpi besar: melanjutkan pendidikan hingga ke perguruan tinggi. Sebuah mimpi yang terasa begitu tinggi di tengah keterbatasan yang membelenggu.

Kisah pilu ini akhirnya mengetuk hati. Tanpa banyak wacana, aksi nyata pun hadir.

Melalui kolaborasi kemanusiaan, H. Moh Hijir Ismail, selaku Kapokdar Kamtibmas Bhayangkara Polres Situbondo sekaligus owner Zábiaz, bersama Hadi dari ASB Channel Asembagus dan istrinya, turun langsung ke lokasi ,03/05/2026.


Program bedah rumah akan menjadi langkah awal untuk mengubah hunian Askim menjadi lebih layak. Bukan hanya itu, bantuan juga menyentuh sisi ekonomi sebuah sepeda motor Honda Beat akan diberikan sebagai stimulus agar Askim bisa bangkit dan memiliki penghasilan.


Langkah ini bukan hanya soal bantuan materi. Ini adalah tentang mengangkat martabat dan menghidupkan kembali harapan yang hampir padam.

Kehadiran mereka menjadi bukti bahwa di tengah masih banyaknya warga yang terabaikan, kepedulian nyata masih ada.


Kepada awak media , Kapokdar Kamtibmas Situbondo mengatakan, “Ini bukan sekadar bantuan, ini panggilan kemanusiaan. Kami tidak ingin hanya melihat kondisi seperti ini tanpa tindakan nyata. Saudara Askim dan keluarganya berhak hidup lebih layak, Bismillah insyaallah hari senin kita bedah rumahnya, mohon doanya”. 

“Ayu harus tetap sekolah. Mimpinya tidak boleh kalah oleh keadaan. Kami ingin memastikan masa depannya tetap ada.”

“Kami mengajak semua pihak untuk lebih peka. Karena di balik data dan angka, masih banyak saudara kita yang hidup dalam keterbatasan dan membutuhkan uluran tangan.” Tegasnya.


Kisah Askim dan Ayu adalah potret nyata bahwa kemiskinan bukan sekadar angka, ia adalah kehidupan yang benar-benar dijalani. Namun selama masih ada kepedulian, harapan akan selalu menemukan jalannya.

Red_182

×
Berita Terbaru Update